Definisi Mahar dan Hukum Mahar | Pengertian Mahar


A. Definisi Mahar

Mahar adalah pemberian dalam pernikahan atau sejenisnya yang diberikan berdasarkan kesepakatan kedua mempelai atau berdasarkan putusan hakim. Dalam bahasa Arab, mahar disebut juga dengan shadaq. Tampaknya,penamaan itu menunjukan “kesungguhan atau keseriusan (shidq) seorang suami untuk menikah.”[1]
Mahar dalam bahasa Arab berasal dari kata Shadaq. Asalnya isim masdar dari kata ashdaqa, masdarnya ishdaq diambil dari kata shidqin (benar). Dinamakan shadaq karena memberikan arti benar­benar cinta, nikah dan inilah yang pokok dalam kewajiban mahar atau maskawin. Pengertian mahar menurut syara’ adalah sesuatu pemberian yang wajib sebab nikah atau bercampur atau keluputan yang dilakukan secara paksa seperti menyusui dan ralat para saksi.
“Shadaq ialah sejumlah harta yang wajib dibayarkan karena nikah atau wath’i (persetubuhan), jelasnya maskawin. Maskawin dinamakan shadaq karena didalamnya terkandung pengertian sebagai ungkapan kejujuran minat pemberinya dalam melakukan nikah, sedangkan nikah merupakan pangkal yang mewajibkan adanya maskawin”.[2]

B. Hukum Mahar

Mahar merupakan salah satu kewajiban dalam suatu pernikah. Maka dalam pernikahan harus ada mahar, baik disebutkan maupun tidak disebutkan. Jika tidak disebutkan, maka sang istri memperoleh mahrul­mitsl.
Allah SWT. berfirman,
وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحۡلَةٗۚ فَإِن طِبۡنَ لَكُمۡ عَن شَيۡءٖ مِّنۡهُ نَفۡسٗا فَكُلُوهُ هَنِيٓ‍ٔٗا مَّرِيٓ‍ٔٗا 4  
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada  wanita  (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” .(QS. An­Nisa [4]: 4).
Rasulullah SAW bersabda:
“Kawinlah engkau sekalipun dengan maskawin cincin dari besi” . (HR. Bukhori).
Hadis diatas menunjukan kewajiban mahar sekalipun sesuatu yang sedikit. Karena tidak ada keterangan dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau meninggalkan mahar pada suatu pernikahan. Andaikata mahar itu tidak wajib tentu Nabi SAW. pernah meninggalkannya walaupun sekali dalam hidupnya. Tetapi beliau tidak pernah meninggalkan mahar dalam setiap pernikahan. Hal ini menunjukan kewajiban mahar dalam pernikahan.[3]
Ibnu Abbas mengisahkan,
“Ketika Ali Ibn Abi Thalib menikahi Fatimah, Rasulullah SAW. bersabda kepadanya, ‘berilah ia sesuatu (mahar)’! Ali menjawab, ‘Aku tidak memiliki apa­ apa.’ Rasulullah SAW. bertanya, ‘Mana baju besimu?’ Ali menjawab, ‘Ada padaku.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Berikan itu kepadanya!” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

[1] Abu Malik Kamal, Terjemahan Fiqhus Sunah lin­Nisa’, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, cet. Ke­5, 2015). Hlm. 174
[2] Zainuddin bin Abdul Aziz Al­Malibari Al­Fannani, Terjemahan Fathul Mu’in Jilid 2, (Bandung: Sinar baru Algensindo, 2013). Hlm.1281.
[3] Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Munakahat: Khitbah, Nikah, dan Talak, (Jakarta: Amzah). Hlm. 177.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Definisi Mahar dan Hukum Mahar | Pengertian Mahar"

Post a Comment

Mohon Gunakan Bahasa yang baik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel