Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Perkembangan Tafsir di Thailand


     Kelahiran dan perkembangan ilmu tafsir di Nusantara dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aktivitas pengajian dan penulisannya. Sejarah perkembangan ilmu tafsir di Nusantara telah dirintis oleh seorang ulama bernama Abdul Rauf al-Fansuri melalui karya beliau yang terkenal berjudul Tarjuman al-Mustafid. Seterusnya ilmu ini terus mengalami perkembangan melalui pengajian tafsir di pondok-pondok pesantren dan di masjid-masjid. Sementara itu, karya dalam bidang tafsir dilihat mengalami perkembangan pesat pada abad ke-20 an yang dipengaruhi dari Mesir yang dicetuskan oleh Sheikh Muhammad ‘Abduh (1849-1905) yang kemudian dikembangkan oleh murid-muridnya sehingga menjalar ke Nusantara melalui tokoh-tokoh reformis Malaysia seperti Sheikh Tahir Jalaluddin (1869-1956), Syed Sheikh al-Hadi (1867-1934), Mustafa Abdul Rahman (l918-1968), Abu Bakar al- Ashaari (1904-1970). Sementara tokoh dari Indonesia diwakili Hamka (19081981), A. Hasan (1887-1958), Hasbi as-Siddiqi (1904-1975), M Quraish Shihab (1944-sekarang), dan lain-lain. Tetapi, Thailand tidak begitu terpengaruh oleh penyebaran dari Mesir ini, Thailand banyak dipengaruhi oleh Tafsir dari Hijaz.

    Thailand merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, meskipun pada awalnya agama penduduk Negara Thailand bukan agama Islam. Sedikit mengungkit sejarah bahwa penyebaran agama Islam di Thailand dilakukan oleh kerajaan Pasai (Aceh). Ketika Kerajaan Pasai ditaklukan oleh Thailand, Raja Zainal Abidin dan orang-orang islam banyak yang ditawan, setelah mereka membayar tebusan mereka dikeluarkan dari tawanan. Para tawanan tersebut ada yang pulang dan ada yang menetap di Tailand sehingga mereka menyebarkan agama islam di Thailand.

     Perkembangan kajian Islam di Thailand tidak terlepas dari peranan para tokoh-tokoh ulama Thailand, khususnya di daerah patani, adapun ulama-ulama patani itu diantaranya, Syeikh daud, Syeikh Ahmad, Syeikh Muhammad Bin Isma’il. Mereka inilah yang banyak menghasilkan tulisan-tulisan karya ilmiah dan secara tidak langsung banyak mempengaruhi masyarakat Pattani. Hanya saja tulisan-tulisan ulama pendahulu masih tertumpu di bidang Tauhid, Tasawuf, Fikih, Ilmu Alat dan lainnya. Karya-karya mereka tidak banyak dalam mengkaji bidang Al-Qur’an.

    Pengajian tafsir Al-Qur’an di kalangan masyarakat Melayu Islam di Patani (selatan Thailand) berlaku secara tidak langsung sejak kedatangan Islam, yaitu sekitar abad ke-7 M. (Chapakia, 2000: 18). Menurut Dr. Mohd.Lazim Lawee Donwana Taye, para mubaligh bukan saja menyebarkan ajaran Islam dan mengajar membaca Al-Qura’n, tetapi berkemungkinan juga mereka mengajar tafsir AlQur’an yang sesuai dengan tahap keislaman dan penerimaan penduduk pada masa itu.

       Jika di selidiki, pengajian Tafsir al-Qur’an di Thailand tidak begitu jelas, namun pada abad ke-12 M, pembelajaran tafsir di beberapa pondok atau sekolah menggunakan buku-buku bahasa arab sebagai teks, seperti kitab Tafsir al-Jalalayn dan syarah-syarahnya, Tafsir al-Maraghi karangan Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Wadih karangan Dr. Muhammad Mahmud Hljazi, dan sebagainya. Silabus pengajian tafsir sekolah rendah juga menggunakan tafsir Juz 'Amma karangan Abi Luqman, cetakan Kelantan Darul Naim pada 1970an.

       Pengajian tafsir Al-Qur’an yang disampaikan dan ditekankan ulama Patani baik di pondok maupun di sekolah berazaskan ilmu alat.Bagaimanapun pada awal abad ke-20 M, berlaku pembaharuan corak pengajian tafsir di Patani. Pembaharuan ini dimulai oleh Dr. Ismail Lutfi Japakia melalui kuliah pengajian tafsir Al-Qur’an dan Hadis yang dikenal sebagai Majlis al-Ilmi, bertempat di Masjid Ibadurrahman, Madrasah al-Rahmaniah, Beraul, Patani, setiap Sabtu (Chapakia, 2000: l8). Kuliah ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat karena kaidah penafsirannya tidak terikat kaidah ilmu alat. Bahkan dia coba mengimbangkan antara al-isalat fi attafsir dan al-mu'asarat li al-tafkir yaitu mengimbangkan penafsiran berasaskan alma'thur dengan pemikiran dan tuntutan zaman (Chapakia, 2000: I8). Selain itu, pengajian tafsir turut diajarkan ke peringkat lebih tinggi. Di Patani, hanya terdapat dua universitas yang menawarkan pengajian Islam, khususnya di bidang tafsir, yaitu Universitas Islam Yala dan Universitas Prince Songkhla Kampus Fatani


[1] Mustafa bin Abdullah dan Abdul Manan Syafi’i, KHAZANAH TAFSIR DI NUSANTARA: Penelitian terhadap Tokoh dan Karyanya di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand, Jurnal Konstektualita, Vol. 25, No. 1, Juni 2009, Hal. 31-32.

[2] Hasani Ahmad Said, Mengenal Tafsir Nusantara: Melacak Mata Rantai Tafsir Dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura Hingga Brunei Darussalam, Jurnal Refleksi, Volume 16, Nomor 2, Oktober 2017, Hal. 218-220.

[3] Amirulloh Sain Asari, History and Development of Tafsir in Southeast ASIA: Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapore and Thailand, Jurnal Waratsah, Volume 01, Nomor 02, Desember 2016, Hal. 182.

[4] Yaitu berasaskan kaidah ilmu nahwu, saraf, balaghah, dan sebagainya.

[5] Universitas lslam Yala sebelumnya dikenal sebagai Kolej lslam Yala; satu-satunya institusi pengajian tinggi swasta (PTS) pertarna di Thailand yang dimiliki masyarakat Melayu Islam selatan Thailand. 

[6] Mustafa bin Abdullah dan Abdul Manan Syafi’i, KHAZANAH TAFSIR DI NUSANTARA: Penelitian terhadap Tokoh dan Karyanya di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand, Jurnal Konstektualita, Vol. 25, No. 1, Juni 2009, Hal. 41-42.
Dodi Insan Kamil
Dodi Insan Kamil "Butuh sebuah keberanian untuk memulai sesuatu, dan butuh jiwa yang kuat untuk menyelesaikannya." - Jessica N.S. Yourko

Post a Comment for "Sejarah Perkembangan Tafsir di Thailand"